Kegiatan APMI

Rabu, 04 April 2018


Terwujudnya Indonesia sebagai poros maritim dunia tidak hanya dalam konteks pembangunan ekonomi dan pertahanan. Kesuksesan Indonesia sebagai poros maritim dunia harus didukung dari sumber daya manusianya yang memaknai dan mengaktualisasikan perannya sebagai masyarakat berkarakter maritim. Oleh karenanya, Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI) hadir sejak tahun 2013 sebagai solusi untuk membangun sumber daya manusia, khususnya pemuda agar Indonesia menjadi negara yang berkarakter maritim. Organisasi kepemudaan nasional ini merangkul pemuda dari pelosok negeri dan para cendekiawa muda yang memiliki keilmuan kemaritiman untuk bersama membangun negeri di bidang kemaritiman.

Saat ini APMI sedang melebarkan sayapnya untuk membentuk Komisariat Daerah di setiap provinsi. Baru-baru ini APMI Provinsi Riau baru saja dibentuk. Terbentuknya APMI Provinsi Riau diprakasai oleh M. Anwar Fuad dan Khairul Mukmin Lubis yang alumni Ilmu Kelautan Universitas Riau, Indah Tria Suci mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan dan Mia Audina mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Riau. Berlatar belakang keilmuan yang sama dan didorong dengan keinginan semangat belajar menggali potensi maritim di Riau tercetuslah niat untuk mendirikan APMI di provinsi ini. Tujuannya untuk mengembangkan pemikiran kritis, gagasan, dan kapasitas generasi muda Riau guna meningkatkan peran pemuda dalam membangun kemaritiman di Provinsi Riau menuju Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Provinsi Riau memilki tujuh kabupaten/kota yang memiliki daerah pesisir, maka dari itu APMI Provinsi Riau akan mengoptimalkan kegiatan-kegiatan produktif seperti riset mini, pengabdian kepada masyarakat, diskusi, seminar dan pelatihan-pelatihan bagi pemuda dan masyarakat pesisir. Provinsi Riau memiliki potensi sumber daya yang besar pada wilayah pesisir dan laut. Hal ini didukung dengan wilayah teritorial perairan yang luas yaitu 470,80 km2. Riau merupakan provinsi yang berada di Pulau Sumatera yang dimana terdapat lintasan Selat Malaka yang merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia.

Sektor perikanan dan kelautan menjadi salah satu sektor unggulan di Provinsi Riau. Sebagaian besar produksi perikanan di Provinsi Riau merupakan perikanan tangkap, dimana Badan Pusat Statistik pada tahun 2013 menyebutkan produksi perikanan tangkap mencapai 50% dari total produksi perikanan Provinsi Riau. Produksi perikanan tangkap laut di Riau sebesar 93.279 ton, diikuti perikanan budidaya kolam sebesar 45.284 ton. Hasil produksi perikanan tangkap Riau menyumbang 1,76 persen terhadap hasil produksi perikanan tangkap nasional yang sebesar 5.707.012 ton pada tahun 2013. Dimana potensi terbesar terdapat di Kabupaten Indragiri Hilir dan Rokan Hilir. Tidak terlepas dari itu Provinsi Riau memiliki pulau-pulau kecil yang mempunyai daya tarik dan dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata bahari seperti Pulau Rupat di Kabupaten Bengkalis dan Pulau Jemur. Serta luasnya Hutan Mangrove sekitar 138.434 Ha yang berada di pesisir Provinsi Riau dapat menjadi alternatif pendamapatan masyarakat dari sektor hutan non kayu. Produk-produk pangan mangrove yang sudah banyak dipasarkan antara lain dodol mangrove, sirup pedada, dan keripik dari buah api-api. Dengan hadirnya APMI di Provinsi Riau diharapkan dapat menggerakkan paradigma pembangunan maritim yang diprakasai oleh generasi muda.



Sumber: HUMAS APMI RIAU


Desember 2017, terdapat sebuah momen penting bagi pembangunan kemaritiman di Kabupaten Lombok Tengah. Ini karena Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI) Lombok Tengah resmi hadir menjadi warna baru dalam masyarakat berdasarkan Surat Keputusan Pimpinan Pusat APMI Nomor 011/SK-1A/005/APMI/XII/2017. Organisasi pemuda bidang kemaritiman untuk wilayah Kabupaten Lombok Tengah ini diketuai oleh Gandi Rifansyah dengan wakil ketua Ali Syadillah, sekretaris Nurmayana, dan bendahara Murahati.

Lombok merupakan daerah wisata yang sangat terkenal, baik di tingkat nasional maupun internasional. Pada 2016 lalu, Pulau Lombok mendapatkan penghargaan sebagai tempat wisata halal nomor satu dunia.  Hamparan pasir putih di pantai selatan bagian Lombok Tengah merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung untuk menikmati keindahan pantai. Diantara lokasi wisata yang menjadi primadona turis di wilayah tersebut adalah Tanjung Aan, Pantai Gerupuk, Pantai Mawun, Selong Belanak, Batu Payung, Batu Kotak, Pantai Tunak, dan masih banyak tempat-tempat wisata menarik lainnya untuk dikunjungi. Di Lombok Tengah jugalah, terdapat Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika yang merupakan salah satu ‘New Bali,’ sebuah kawasan strategis pariwisata nasional.


Selain potensi wisatanya, Lombok Tengah juga memiliki perairan yang masih alami. Kondisi kualitas air laut di wilayah ini (perairan Lombok Tengah bagian selatan) masih sesuai dengan standar baku Kementerian Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2004 untuk biota laut. Sehingga tempat ini juga berpotensi sebagai lokasi Keramba Jaring Apung (KJA) di samping karena sebagian besar dari garis pantai Lombok Tengah merupakan perairan teluk. Oleh karena itu, perlu manajemen dan pemberdayaan sumber daya manusia, khususnya pemuda untuk menjaga potensi wisata tersebut supaya dapat dimanfaaatkan secara optimal dan berkelanjutan berbasis riset dan penumbuhan ekonomi lokal. 

APMI Lombok Tengah bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat pesisir dan pengelolaan sumber daya laut guna membangun wisata bahari dan perikanan yang berkelanjutan, dimana bukan hanya memperhatikan aspek ekonomi, tapi juga aspek sosial dan lingkungan. Pemberdayaan masyarakat pesisir ini akan dilakukan melalui kegiatan-kegiatan pemberdayaan kapasitas pemuda dan keluarga nelayan seperti pelatihan, pendampingan, sosialisasi, seminar, dan pendidikan nonformal. Selain itu, APMI Lombok Tengah juga berkomitmen untuk mendukung suksesnya NTB sebagai wisata halal dunia.

APMI Lombok Tengah akan mengadakan kerja sama dengan berbagai media lokal dan nasional seperti TVRI, Suara NTB, Lombok Pos, maritimnews.com, dan pemudamaritim.com untuk publikasi. Dalam penyelenggaraan program, APMI Lombok Tengah akan senantiasa berkoordinasi dan terbuka akan peluang kerja sama dengan Dinas Perikanan, Dinas Pariwisata, Sekretariat Daerah, PT ITDC, dan komunitas-komunitas lingkungan lokal di Lombok Tengah guna membangun wisata bahari dan perikanan secara berkelanjutan.


Sumber: Humas APMI Lombok Tengah

Tanggal 10 Februari 2018 merupakan hari bersejarah pembangunan kemaritiman di Kalimantan Tengah. Pasalnya, pada tanggal tersebut Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia Komisariat Daerah Provinsi Kalimantan Tengah (APMI Kalteng) terbentuk sebagai organisasi pemuda yang diharapkan mampu menjadi penggerak kemaritiman di provinsi ini, yang kemudian resmi berdiri melalui SK Pimpinan Pusat APMI Nomor 007/SK-1B/012/APMI/II/2018. Terpilih sebagai Ketua yaitu saudara Anas Wahid Maulana, Albertus Telaumbanua sebagai Sekretaris, Inda Murni Zamasi sebagai Bendahara, dan Evander Nicharson Gultom sebagai Ketua Bidang Kajian dan Data Maritim dalam rapat pembentukan. Mereka ini merupakan alumni Ekspedisi Nusantara Jaya (ENJ) yang diselenggarakan oleh Kemenko Bidang Kemaritiman.

APMI Kalteng siap bersinergi dengan pemerintah daerah, masyarakat, dan swasta untuk bersama membangun kemaritiman di Kalimantan Tengah hingga daerah pelosok, utamanya wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. APMI Kalteng juga akan melaksanakan APMI Goes to School, supaya anak-anak SD, SMP, dan SMA sederajat baik yang di pesisir maupun non pesisir mengerti potensi laut yang ada di provinsi mereka dan mengenal profesi kemaritiman sejak dini. Dampak pemanfaatan sumber daya laut di Kalimantan Tengah selama ini memang tidak terlalu nampak karena sumber daya manusia yang mengembangkannya dirasakan masih kurang. Akan tetapi jika potensi sumber daya laut tersebut dimanfaatkan scara maksimal maka menghasilkan pendapatan bernilai ekonomis tinggi bagi masyarakat dan daerah. Oleh karenanya, APMI Kalteng hadir untuk menjadi bagian dalam pemberdayaan masyarakat pesisir, utamanya para pemuda untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya laut yang dimiliki secara optimal.

Kalimantan Tengah memiliki potensi laut seluas 94.500 kilometer persegi yang terdapat berbagai jenis komoditas penting seperti ikan pelagis, udang, dan rajungan, serta panjang garis pantai sekitar 750 kilometer yang sungguh disayangkan apabila tidak dikelola dan dimanfaatkan secara baik. Pantai panjang yang dijuluki Pantai Laut ini terletak di selatan Kalimantan Tengah dengan merangkai tujuh kabupaten, yaitu Kabupaten Kotawaringin Barat, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kabupaten Kapuas, Kabupaten Sukamara, Kabupaten Seruyan, Kabupaten Katingan, dan Kabupaten Pulang Pisau. Selain itu, perairan umum dengan luas kurang lebih 22.900 kilometer persegi juga mengandung potensi sumberdaya ikan cukup besar yang memerlukan pengelolaan dan pemanfaatan secara baik.

APMI Kalteng akan terlibat dalam pengembangan usaha pengolahan perikanan skala kecil yang dilakukan oleh Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar). Hal ini untuk meningkatkan produksi olahan hasil perikanan yang pada 2013 masih di angka 6.149,9 ton. Padahal Tingkat Konsumsi Ikan di Kalimantan Tengah sudah tergolong tinggi yaitu 46.03 kg/kapita/tahun, lebih besar daripada Tingkat Konsumsi Ikan Nasional sebesar 35,62 kg/kapita/tahun. Jumlah unit pengolahan di Kalimantan Tengah pun sebanyak 2.837 UPI dan unit pemasaran sebanyak 7.994 UPI (Data Pemprov Kalteng 2015).

Untuk mengembalikan kejayaan maritim Indonesia memang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Akan tetapi, para pemuda yang tergabung di APMI Kalteng meyakini dengan peran sertanya dan kolaborasi bersama pemerintah, masyarakat, serta swasta, hal tersebut akan terasa lebih mudah. Dari Kalimantan Tengah, APMI siap mengembalikan kejayaan maritim Indonesia.

Semangat Pemuda, Semangat Maritim Indonesia! Di Laut Justru Kita Jaya!


Sumber: Anas dan Albertus (Ketua dan Sekretaris APMI Kalteng)