Kegiatan APMI

Minggu, 17 Desember 2017

Foto bersama Mas Agung (Pelatih Kreasi Barang Bekas)


Semarang (17/12), Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI) Provinsi Jawa Tengah libatkan warga pesisir untuk menjaga laut dari sampah. Kegiatan dilangsungkan di Pesisir Tambak Lorok, Tanjungmas, Kota Semarang, yang mana saat ini sedang dibangun menjadi Kampung Wisata Bahari.

Berdasarkan penjelasan Sekjen APMI Jateng, I Gede Bayu Pradnya Subagia, yang akrab disapa Ige, kegiatan ini dalam rangka memperingati Hari Nusantara 2017 yang diperingati setiap tanggal 13 desember.

“Kegiatan ini dalam rangka memperingati momentum Hari Nusantara 2017, untuk memberikan awareness terhadap masyarakat umum melalui kegiatan yang melibatkan anak-anak dan pemuda lokal dalam memerangi sampah laut.”jelas Ige

Peringatan Hari Nusantara ini diisi dengan kegiatan Coastal clean up dan pembuatan kreasi dari barang bekas. Turut hadir kelompok pemuda Tambak Lorok, anak-anak dan komunitas Lentera Pesisir Semarang sebagai bentuk kolaborasi generasi muda.

Gerakan Pungut Sampah

Memilah Sampah
Kelas Kreasi barang bekas


“Dan bentuk kolaborasi ini menjadi suatu program yang berkelanjutan untuk lebih meningkatkan kesadaran akan lingkungan hidup” Tegas Ige

Pengurus Lentera Pesisir Semarang, Refida,  menyampaikan, Anak-anak sangat berantusias dalam kegiatan pengumpulan sampah dan mengolah sampah menjadi barang berharga. Bahkan, ada salah satu anak yang menginginkan kegiatan pengolahan sampah diadakan kembali.

Ketua Karang Taruna Tambak Lorok RT04/14, Wibi, mengapreasi kegiatan yang telah berlangsung.
“Kegiatan tadi bisa memotivasi warga agar bisa lebih tau tentang limbah organik dan an-organik dikelola seperti apa” Jelas Wibi

Lanjut Wibi, saya mengharapkan warga Tambak Lorok bisa menjaga dan mengelola didaerah sekitar rumah supaya lebih bersih dan bisa mengelola sampah



Ige yang menempuh studi di Jurusan Perkapalan UNDIP juga menyoroti keadaan lingkungan pesisir kota Semarang saat ini.

“Ditinjau dari sisi lingkungan pesisir kota semarang butuh perlakuan khusus, dengan intensitas air rob yang tinggi ditambah dengan kesadaran masyarakat akan sampah berkurang hal ini menjadi suatu ancaman terhadap ekosistem yang ada.” Terang Ige

Lanjut Ige, Semarang khususnya tambak rejo/lorok adalah salah satu sentra bandeng   presto yang ada di semarang, untuk menghasilkan produk unggulan dengan daya saing tinggi, maka masyarakat harus bekerja sama dalam memanajemen sampah khususnya yang berada sekitar tambak ikan, dengan sistem yang baik, penegakan hukum yang tegas, dan pendekatan yang humanis. Bukan tidak mungkin tambak rejo/lorok menjadi wilayah dengan daya saing yang tinggi.”

Senada dengan Ige, Refida dari Lentera Pesisir menyampaikan, Keadaan pesisir kota semarang masih sangat memprihatinkan. Kebanyakan masyarakat kurang peduli terhadap kebersihan lingkungan. Anak-anak terbiasa membuang sampah sembarangan. Hal ini dibuktikan dengan sampah-sampah yang berserakan di sepanjang jalan Tambak Lorok.

“Peran pemuda dalam menanggulangi sampah di pesisir sangat penting. Karena, pemuda merupakan agen perubahan. Jika bukan pemuda yang menjadi ikon dan contoh untuk masyarakat siapa lagi?” Pungkas Refida yang lebih akrab disapa Rere

Lanjut Ige, kedepan APMI Jateng akan terus berkolaborasi dengan berbagai lembaga kepemudaan untuk terjun langsung membangun lingkungan pesisir Jawa Tengah. (HW)

Rabu, 29 Maret 2017


Selasa, 07 Maret 2017


apmi.co.id-Sabtu, 4 Maret 2017, Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI) bersama BEM Fakultas Teknologi Kelautan Universitas Darma Persada (FTK UNSADA) didukung oleh Kemenko Bidang Kemaritiman RI menyelenggarakan kegiatan Maritime Learning Class perdana program Maritime Learning Center (MLC) 2017 yang bertemakan "Urgensi Pendidikan dan IPTEK Kemaritiman untuk Mengembalikan Jati Diri Indonesia sebagai Negara Maritim" di Ruang Seminar FTK UNSADA.

Kaisar Akhir selaku Ketua Panitia MLC 2017 mengatakan bahwa program ini bertujuan untuk membangun intelektual muda maritim guna mendukung Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Program MLC 2017 sebuah upaya membangun budaya maritim di kalangan anak muda agar lebih memahami dunia kemaritiman sehingga dapat berkontribusi lebih besar dalam pembangunan maritim di negara kepulauan terbesar ini, sambung Kaisar yang juga Wasekjen APMI.

Ketua Umum APMI, Renaldi Bahri Tambunan mengungkapkan bahwa MLC adalah program unggulan APMI yang diharapkan menjadi wadah bagi mahasiswa dan pemuda untuk lebih mengenal dan mencintai kemaritiman secara holistik. Ia juga menyatakan bahwa  MLC akan diselenggarakan dalam bentuk kelas-kelas yang memiliki tema khusus berbagai keilmuan maritim tiap bulannya sepanjang tahun ini.

Pada kelas perdana MLC ini, hadir Rektor UNSADA, Dr. Dadang Solihin membuka acara dan Deputi IV Bidang Koordinasi SDM, IPTEK, dan Budaya Maritim Kemenko Maritim, Dr. Safri Burhanuddin yang secara resmi meluncurkan (launching) Program MLC 2017.

Safri mengungkapkan bahwa kegiatan seperti ini sangat bagus untuk membangun budaya, semangat, dan pemahaman kemaritiman generasi muda bangsa guna mengembalikan jati diri Indonesia sebagai Negara Maritim. Beliau dalam closing statementnya saat menjadi Narasumber utama, mengajak peserta MLC kelas Maret ini untuk membuka wawasan secara global tapi juga bertindak pada lingkup lokal dalam berkiprah di bidang maritim dan dunia profesional atau pascakampus sehingga bangsa Indonesia lebih berdaya saing dan memimpin di dunia internasional khususnya dalam bidang kemaritiman.

Dalam MLC perdana ini, hadir juga 3 orang narasumber lainnya, yaitu Dekan FTK UNSADA, Yoseph Arya Dewanto, S.T., M.T., Dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan dan Peneliti Senior SBRC IPB, Dr. Mujizat Kawaroe, dan Letkol Laut (KH) Dr. Gentio Harsono selaku Paban Bidang Teknologi Staf Ahli Kepala Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL.