Jumat, 26 Januari 2018

Maritime Talk, Agenda APMI JATENG Membuka Semangat Maritim 2018


Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI) Wilayah Jawa Tengah bekerjasama dengan Universitas Stikubank (UNISBANK) Semarang mengadakan kegiatan "Maritime Talk" bertemakan“ Reborn Maritim Indonesia : Perspektif Sistem Ekonomi Kelautan Integrasi “ yang mana diambil dari buku karya Witjaksono seorang pengamat ekonomi di Gedung Universitas Stikubank Kampus Mugas, Jl. Tri Lomba Juang, Semarang, 15 Januari 2018.

Selain mendatangkan Witjaksono, turut hadir Dr Rochmani, SH. M.Hum (Dekan Fakultas Hukum UNISBANK) yang memberikan sudut pandangan hukum, serta Fendiawan Tiskiantoro selaku kepala pelabuhan perikanan pantai morodemak memaparkan implementasi regulasi perikanan dan nelayan. Kegiatan ini dipandu langsung oleh Sekjen APMI Jateng, I Gede Pradnya Subagia.



Witjaksono membuka pemaparan dengan mengingatkan audien Maritime Talk yang terdiri dari berbagai elemen yang ada di Jawa Tengah, bahwa yang tidak bias dihilangkan dari Indonesia adalah lautnya.

"Kenyataan yang tidak bisa dihilangkan dari Indonesia adalah lautnya. Karena di sanalah tumpuan harapan dan energi yang semenjak dilahirkannya, Indonesia telah menemukan fitrahnya sebagai bangsa maritim." Terang Witjaksono yang akrab disapa Mas Witjak

Lanjut Witjak, tiga prinsip pembangunan kelautan perikanan yaitu kedaulatan salah satunya dengan mencegah pencurian ikan, keberlanjutan yakni melakukan konservasi untuk menjaga produktivitas; dan  kesejahteraan nelayan.

“Kapal-kapal yang masuk daftar tunggu ditenggelamkan bisa diberikan kepada nelayan atau untuk kapal wisata. Nilai ekonominya jadi lebih bernilai dan tidak menghamburkan uang untuk menenggelamkan kapal,” imbuhnya.

Beberapa faktor yang harus diperhatikan pemerintah dan pembuat keputusan, lanjut Mas Witjak, di antaranya adalah mengikutsertakan nelayan dalam diskusi, sehingga kebijakan pemerintah dan kondisi di lapangan tidak terjadi kesenjangan.

Ia menambahkan sebaiknya Menteri Susi sekarang lebih fokus pada produksi perikanan. Cukup pemberantasan illegal fishing dengan menenggelamkan kapal ikan asing sebagai sebuah shock therapy dan peringatan bagi para pencuri ikan.

Menurutnya, saat ini bahan bakar minyak (BBM) dan pakan ikan di kampung-kampung nelayan masih belum terkendali. Begitu pun dengan kasus kapal cantrang yang masih menjadi polemik.

“Melalui SEKTI (sistem ekonomi kelautan yang terintegrasi) dari hulu ke hilir memungkinkan seluruh pemangku kepentingan mulai dari pengusaha hingga nelayan dapat mengetahui pengembangan sektor maritim Indonesia,” pungkasnya.

Rochmani menjelaskan mengenai regulasi yang mengatur mengenai perikanan tangkap,beliau juga menekankan bahwa penangkapan ikan di laut haruslah mempertimbangkan ekosistem yang ada, terutama mengenai keberadaan ikan itu sendiri.

“Regulasi kelautan dan perikanan yang diterapkan haruslah mempertimbangkan 3 hal, yaitu keberlanjutan, ekosistem dan keadilan sosial”. Hal-hal yang beliau jelaskan akan bermuara pada sebuah konsep SEKTI pada buku Reborn Maritim Indonesia." Terang Rochmani

Senada dengan Rochami, Fendiawan juga setuju dengan SEKTI konsep Witjakjsono yang dituangkan dalam buku Reborn Maritim Indonesia.

"Banyaknya sistem yang telah dikembangkan terkait dengan hulu-hilir perikanan seperti sistem perbankan pada TPI, pemetaan tempat pelabuhan perikanan yang bermuara kepada SLIN (Sistem Logistik Ikan Nasional) namun selalu terhambat pada tingkat yang lebih tinggi, sehingga penerapan kebijakan ini tidak dapat merata, saya berharap dengan SEKTI yang dibawakan oleh Mas Witjak dapat menjadi suatu solusi bagi dinas-dinas terkait selaku perumus kebijakan." Tegas Fendi

Lanjut Fendi, kondisi nelayan yang ada di pantai Morodemak saat ini  telah melakukan sistem digitalisasi kepada nelayan, digitalisasi yang dimaksud adalah dengan membekali nelayan dengan teknologi yang berisi kondisi perairan, dan keberadaan ikan, sehingga pandangan mencari ikan berubah menjadi menangkap ikan. 



Kegiatan Maritime Talk ini sendiri akan dilaksanakan setiap bulannya untuk menggugah Cinta Maritim di Jawa Tengah. Ketua APMI Jateng Hendra Wiguna menyatakan bahwa dengan hadirnya kegiatan Maritim Talk diharapkan menumbuhkan rasa cinta maritim bagi warga Jawa Tengah.

“Hari ini kita kedatangan Mas Witjaksono, yang sudah lama malang melintang di dalam perekonomian khususnya perikanan baik dalam negeri maupun luar negeri. Dan yang lebih istimewa sendiri beliau adalah asli putra Jateng,” ujar Hendra.

Sambung Mahasiswa Perikanan Undip ini, terlaksananya MaritimeTalk di universitas Stikubank (UNISBANK), harapannya akan menjadi penggugah bahwa maritim tidak hanya menjadi bahasan kampus yang memiliki kejuruan Perikanan, kelautan ataupun perkapalan saja.

“Akan tetapi menjadi tanggung jawab bersama, ketika berbicara soal maritim semua lapisan harus ikut andil di dalamnya,” tambah dia.

Pada Februari 2018 nanti, Maritime Talk akan berbicara soal Ketahanan Pangan dari laut bersama Kolonel Laut (P) Salim.

“Kita akan kerjasama dengan AKPELNI Semarang. Dan semoga saja para calon Gubernur Jawa Tengah juga berkenan hadir. Kita lihat mereka, mana yang lebih memahami maritim Jawa Tengah,” pungkas Hendra

Sumber: Humas APMI Jateng